Tiga Tahun Kiprah Forwatu Banten: Lahir dari Keresahan, Menyuarakan Aspirasi Masyrakat

Berita, Nasional13 Dilihat

poakotapetir.my.id – Lebak – Tiga tahun perjalanan Forum Warga Bersatu Banten (Forwatu Banten) bukan sekadar usia organisasi, melainkan cerita bagaimana sebuah gerakan sosial lahir dari keresahan bersama, tumbuh dari akar rumput, dan kini menjadi salah satu kekuatan warga yang diperhitungkan dalam dinamika sosial Banten.

Di tengah hiruk-pikuk isu daerah, perubahan kebijakan, hingga persoalan warga yang datang silih berganti, Forwatu Banten hadir sebagai ruang yang menghubungkan aspirasi, solidaritas, dan keberanian menyuarakan kepentingan masyarakat.

Perjalanan itu dimulai dari sebuah gagasan sederhana warga Banten membutuhkan wadah yang bisa menjadi suara mereka bukan sekadar kelompok diskusi, tetapi forum yang mampu melakukan aksi nyata.

Pada masa awal pembentukannya, Forwatu Banten hanya beranggotakan segelintir orang yang aktif di lapangan, para penggerak komunitas, dan warga yang terbiasa menjadi jembatan persoalan sosial di kampung-kampung.

Mereka melihat banyak masalah yang seharusnya dapat ditangani bersama, namun sering kali terabaikan. Dari sanalah gerakan ini mulai mengambil bentuk.

Tahun pertama menjadi masa konsolidasi. Forwatu Banten bergerak dari satu desa ke desa lain, dari kecamatan ke kecamatan, dari kabupaten ke kabupaten lain, mendengarkan keluhan warga, mencatat persoalan, dan menjalin jaringan dengan para tokoh lokal.

Mereka bukan hanya menyerap informasi, tetapi membangun kepercayaan. Hal itulah yang membuat Forwatu Banten dikenal bukan sebagai organisasi yang turun hanya saat momentum tertentu, melainkan hadir sepanjang waktu bersama masyarakat.

Dari isu pendidikan, bantuan sosial, kesehatan, hingga infrastruktur dasar, forum ini menempatkan diri sebagai mitra kritis namun konstruktif bagi pemerintah dan lembaga terkait.

Memasuki tahun kedua, Forwatu Banten mulai lebih matang. Gerakannya tidak lagi sekadar respons cepat terhadap persoalan, tetapi berkembang menjadi kegiatan pendampingan dan advokasi.

Banyak warga yang datang meminta bantuan mulai dari konsultasi kasus sosial, pengaduan layanan publik, hingga laporan kerusakan fasilitas umum yang tak kunjung diperhatikan.

Forum ini bergerak dengan data, turun langsung, dan menyampaikan temuan secara terbuka. Keberanian mereka menyuarakan problem lapangan membuat nama Forwatu semakin dikenal. Dalam banyak kasus, suara mereka menjadi tekanan positif agar instansi terkait segera mengambil langkah.

Pada fase ini pula, Forwatu Banten memperluas jaringannya. Relawan berdatangan dari beragam profesi wartawan, guru, pemuda desa, pelaku UMKM, hingga tokoh masyarakat.

Semuanya memiliki kesamaan visi Banten harus diperbaiki dari kekuatan warganya sendiri. Tidak sedikit pula pihak yang awalnya skeptis, namun akhirnya melihat bahwa forum ini bukan gerakan politis, melainkan gerakan sosial yang konsisten menjaga independensi.

Tahun ketiga menjadi masa penguatan. Selain tetap vokal dalam isu publik, Forwatu Banten mulai mengembangkan program pemberdayaan.

Forum ini mendorong UMKM lokal, menginisiasi kegiatan literasi, mendampingi kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan, dan memberikan edukasi publik tentang hak-hak warga.

Mereka tidak ingin hanya menjadi kelompok yang bersuara keras, tetapi juga membawa solusi. Di sinilah posisi Forwatu semakin jelas sebagai jembatan antara warga dan perubahan.

Dalam tiga tahun ini, ada banyak dinamika yang mereka lalui dari perdebatan internal, tekanan eksternal, hingga ketegangan saat mengawal isu sensitif.

Namun konsistensi menjadi fondasi yang terus dipertahankan. Bagi para anggotanya, Forwatu Banten bukan sekadar organisasi, tetapi ruang belajar, ruang berkembang, dan ruang memperjuangkan kepentingan umum.

Mereka membuktikan bahwa gerakan warga tidak harus besar untuk berdampak yang penting adalah keberanian untuk memulai dan keteguhan untuk terus berjalan.

Kini, memasuki usia tiga tahun, Forwatu Banten berdiri bukan sebagai forum yang hanya diisi wacana, tetapi sebagai kekuatan sosial yang hidup. Kehadirannya membuat banyak warga merasa memiliki tempat untuk bersuara.

Forum ini menjadi bukti bahwa perubahan di Banten dapat tumbuh dari bawah, dari tangan-tangan warga yang peduli dan tidak lelah memperjuangkan kebaikan bersama.

Perjalanan tiga tahun kiprah Forwatu Banten akan dirayakan secara istimewa melalui “Gebyar Milad 3 Mas Forwatu Banten”, sebuah perhelatan tiga hari yang mengusung tagline “Bersatu, Berkarya, Berkidmat untuk Banten.”

Rangkaian kegiatan dimulai pada Senin, 8 Desember 2025 dengan agenda Road Show to School, yang menghadirkan lomba menyanyikan Mars Forwatu Banten sebuah upaya menanamkan semangat persatuan sejak bangku sekolah.

Perayaan berlanjut pada Selasa, 9 Desember 2025 melalui kegiatan Santunan Yatim Piatu dan Dhuafa, dengan target penerima manfaat sebanyak 333 orang, sejalan dengan tematik angka tiga yang menjadi roh Milad tahun ini.

Puncak acara digelar pada Rabu, 10 Desember 2025 di Plaza Lebak. Sejumlah tamu undangan dari berbagai unsur mulai dari pejabat publik pemerintah provinsi dan kabupaten/kota se-Banten, OPD, TNI, Polri, organisasi kemasyarakatan, LSM, unsur komplementer hingga tokoh masyarakat dipastikan akan hadir memeriahkan momentum bersejarah ini.

“Gebyar Milad 3 Mas” bukan sekadar pesta besar dan perayaan usia, melainkan penegasan komitmen Forwatu Banten untuk terus hadir, berkarya, dan mengabdi bagi masyarakat.

Selain itu, sebagai momentum refleksi mengikat kembali komitmen, memperkuat jaringan, dan memastikan bahwa gerakan warga yang sudah berlangsung tiga tahun ini tetap berada pada rel perjuangan yang berpihak pada masyarakat.

Plaza Lebak nantinya menjadi ruang simbolis di mana Forwatu menegaskan kembali keberadaannya sebagai forum yang lahir dari rakyat, bergerak bersama rakyat, dan bekerja untuk rakyat.

Tiga tahun hanyalah permulaan dari visi panjang untuk menjadikan Banten sebagai daerah yang lebih inklusif, transparan, dan berpihak pada masyarakat.

Selama semangat kebersamaan tetap dijaga, Forwatu Banten akan terus tumbuh menjadi gerakan warga yang tidak hanya bersuara, tetapi menyalakan harapan.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *